Rabu, 30 April 2014

Belum Ada Judul

Pernah kita sama sama susahTerperangkap didingin malamTerjerumus dalam lubang jalananDigilas kaki sang waktu yang sombongTerjerat mimpi yang indah lelap
Pernah kita sama-sama rasakanPanasnya mentari hanguskan hatiSampai saat kita nyaris tak percayaBahwa roda nasib memang berputarSahabat masing ingatkah kau
Reff:Sementara hari terus bergantiEngkau pergi dengan dendam membara di hati
Cukup lama aku jalan sendiriTanpa teman yang sanggup mengertiHingga saat kita jumpa hari iniTajamnya matamu tikam jiwakuKau tampar bangkitkan aku sobat

Belalang Tua

Belalang tua diujung daun warnanya kuning kecoklat-coklatan
Badannya bergoyang ditiup angin
Mulutnya masih saja mengunyah tak kenyang-kenyang
Sudut mata kananku tak sengaja melihat belalang tua yang rakus
Sambil menghisap dalam rokokku
Kutulis syair tentang hati yang khawatir
Sebab menyaksikan akhir dari kerakusan
Belalang tua yang tak kenyang-kenyang
Seperti sadar kuperhatikan, ia berhenti mengunyah
Kepalanya mendongak keatas
Matanya melotot melihatku tak senang kakinya mencengkeram daun
Empat di depan dua di belakang bergerigi tajam
Sungutnya masih gagah menusuk langit berfungsi sebagai radar
Belalang tua masih saja melihat marah ke arahku
Aku menjadi grogi dibuatnya aku tak tahu apa yang dipikirkan
Tiba-tiba angin berhenti mendesir daunpun berhenti bergoyang
Walau hampir habis daun tak jadi patah
Belalang yang serakah berhenti mengunyah
Kisah belalang tua diujung daun yang hampir jatuh tetapi tak jatuh
Kisah belalang tua yang berhenti mengunyah
Sebab kubilang kamu serakah
Oo .. oo .. oo .. oo belalang tua diujung daun
Dengan tenang meninggalkan harta karun
Warnanya hijau kehitam-hitaman
Berserat berlendir bulat lonjong sebesar biji kapas
Angin yang berhenti mendesir
Digantikan hujan rintik-rintik
Aku yang menulis syair
Tentang hati yang khawatir
Tak tahu kapan kisah ini akan berakhir

Barang Antik

Berjalan tersendatDiantara sedan sedan licin mengkilatDengan warna pucatDan badan penuh cacat sedikit berkarat
Hei oplet tua dengan bapak sopir tuaCari penumpang dipinggiran ibukotaSainganmu mikrolet, bajai dan bis kotaKini kau tersingkirkan oleh mereka
Bagai kutu jalananDi tengah tengah kota metropolitanCari muatanUntuk nguber setoran sisanya buat makan
Hei oplet tua dengan bapak sopir tuaCari penumpang dipinggiran ibukotaSainganmu mikrolet, bajai dan bis kotaKini kau tersingkirkan oleh mereka
Berjalan zig zag ngebutNggak peduli walau mobil sudah bututSuara bising ributYang keluar dari knalpotmu bagai kentut
Hei oplet tua dengan bapak sopir tuaCari penumpang dipinggiran ibukotaSainganmu mikrolet, bajai dan bis kotaKini kau tersingkirkan oleh mereka
Oh bapak tuaPemilik oplet tuaTunggu nanti di tahun dua ribu satuMungkin mobilmuJadi barang antikYang harganya selangit
Oh bapak tuaPemilik oplet tuaTunggu nanti di tahun dua ribu satuMungkin opletmuJadi barang nyentrikYang harganya selangit

Bangunlah Putra Putri Pertiwi

Sinar matamu tajam namun ragu
Kokoh sayapmu semua tahu
Tegap tubuhmu takkan tergoyahkan
Kuat jarimu kalau mencengkeram
Bermacam suku yang berbeda
Bersatu dalam cengkeramanmu
Angin genit mengelus merah putihku
Yang berkibar sedikit malu-malu
Merah membara tertanam wibawa
Putihmu suci penuh kharisma
Pulau pulau yang berpencar
Bersatu dalam kibarmu
Terbanglah garudaku
Singkirkan kutu-kutu di sayapmu oh.....
Berkibarlah benderaku
Singkirkan benalu di tiangmu
Jangan ragu dan jangan malu
Tunjukkan pada dunia
Bahwa sebenarnya kita mampu
Mentari pagi sudah membumbung tinggi
Bangunlah putra putri ibu pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi
Setelah itu kita berjanji
Tadi pagi esok hari atau lusa nanti
Garuda bukan burung perkutut
Sang saka bukan sandang pembalut
Dan coba kau dengarkan
Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut
Yang hanya berisikan harapan
Yang hanya berisikan khayalan

Balada Pengguran

O, apa jadinya?E, ini apa?O, apa jadinya?E, aku lesu?
Dibolak balik dinalar nalarTanpa logika oh ya!Diraba raba diterka terkaTidak terduga oh ya!
Misteri ijazah tidak ada gunanyaKetekunan tidak ada artinya
Pembangunan oh!Pengangguran ya!Ya ha ha haOh ya!
Penerangan oh!Kegelapan ya!Putus asa oh yaOh ya o!
Akan merampok takut penjaraMenyanyi tidak bisaBunuh diri ku takut nerakaMenangis tidak bisa
Kaki lima oh!Kaki lima ya!Kaki lima oh!Oh ya!
Makan debu huh!Makan debu iya!Ya janji palsuOh ya!
Dibolak balik dinalar nalarTanpa logika oh ya!Diraba raba diterka terkaTidak terduga oh ya!
Menghutang lalu lagi menghutangTahu tahu menipu
Pembangunan oh!Pengangguran ya!Pengangguran oh!Oh ya!
Penyuluhan oh!Kegelapan ya!Putus asa oh!Oh ya!
Menghutang lalu lagi menghutangTahu tahu menipu
Pembangunan oh!Pengangguran ya!Pengangguran oh!Oh ya!
Menghutang lalu lagi menghutangTahu tahu menipu
Penyuluhan oh!Kegelapan ya!Putus asa oh!Oh ya!
Menghutang lalu lagi menghutangTahu tahu menipu
Pembangunan oh!Pengangguran ya!Pengangguran oh!Oh ya!
Menghutang lalu lagi menghutangTahu tahu menipu

Balada Orang Pedalaman

He.....ya ya ya he ya ho...)He.....ya ya ya he ya he...)3x
Balada orang-orang pedalaman
He.....ya ya ya he ya ho...He.....ya ya ya he ya he...
Di hutan di gunung dan di pesisirHe....ya...ya...ya...he...ya....hoManusia yang datang dari kotaTega bodohi merekaLihatlah tatapannya yang kosongTak mengerti apa yang terjadiHe ya ya ya he ya hoTak tajam lagi tombak, panah dan parangHe ya ya ya he ya hoHe ya ya ya ho ya heTakampuh lagi mata dari sang pawangDimana lagi cari hewan buruanYang pergi karena senapanDimana mencari ranting pohonKalau sang pohon tak ada lagi..
Pada siapa mereka tanyakan hewannyaYa...pada siapa tanyakan pohonnyaSaudaraku di pedalaman menantiSebuah jawaban yang tersimpan di hatiLewatmu...pembeli
Pada orang-orang pedalamanYang menari dan menyanyiDihalau bising ribuan deru gergaji

Badut

Dut badut badut badut badut badut badutJaman sekarangMong omong omong omong omong omong omong omongSembarang
DitelevisiDikoran koranDidalam radioDiatas mimbar
Nggut manggut manggut manggut manggut manggut manggutSeperti badutYa iya iya iya iya iya iyaYa iya iya
Ho ho ho!Ho ho ho ho ho ho hoHo ho ho!Ho ho ho ho ho ho ho
Peragawati peragawanSenyam senyum seperti badutPenyanyi dan pemusikBintang film nampang seperti badut
DitelevisiDikoran koranDidalam radioDiatas mimbar
Ku aku aku aku aku aku akuSeperti kamuMu kamu kamu kamu kamu kamu kamuSeperti badut
Ho ho ho!Ho ho ho ho ho ho hoHo ho ho!Ho ho ho ho ho ho hoHo ho ho!
Dut badut badut badut badut badut badutJaman sekarangMong omong omong omong omong omong omong omongSembarang
DitelevisiDikoran koranDidalam radioDiatas mimbar
Para pengaku intelekTingkah polahnya lebihi badutKaum pencuri tikusPolitikus palsu saingi badut
Ho ho ho!Ho ho ho ho ho ho hoHo ho ho!

Azan Subuh


Ketika fajar menjelangTerlihat dia melangkah engganSeirama dengan dendang subuhYang singgah di hati keruh
Sempit jalan berdesak bangunanMemandang sinis mendakwa bengisPerempuan satu dan hitamnya waktu
Dihapusnya gincu dengan ujung bajuDibuangnya dengus birahi sejuta tamu
Hari pagi menyambut kau kembaliMengusap nadi mengelus hatiSesal di hatimu kian mengganggu
Kau reguk habis semua doa doaDari surau depan rumah yang kau sewaTak terasa surya duduk di kepalaAzan subuh masih di telinga
Terdengar renyah tawa gadis sekolahMenyibak tabir cerita lamaDidepan retaknya cermin yang telah usangMenari dia seperti dahulu
Terdengar pelan ketuk pintuTegur anakmu buyarkan lamunanPerempuan satu kian terbelenggu
Dihapusnya gincu dengan ujung bajuDibuangnya dengus birahi sejuta tamu

Awang Awang

Jika kata tak lagi bermaknaLebih baik diam sajaJika langkah tak lagi bermataLangkah buta terjang saja
Melayang terbang melayangMelayang di awang-awangMelayang terbang melayangDi atas samudera terbentang
Berlari aku berlariMenembus hariBerlari aku berlariMenembus hari
Bagaimana bisa berhenti ?Sedang kita belum melangkahBagaimana bisa kembali ?Sedang kita tak tahu sampai dimana
Berlari aku berlariMenembus hariBerlari aku berlariMenembus hari
Bagaimana bisa mengerti ?Sedang kita belum berpikirBagaimana bisa dianggap diam ?Sedang kita belum bicara
Melayang terbang melayangMelayang melayangMelayang melayang
Bagaimana bisa mengerti ?Sedang kita belum berpikirBagaimana bisa dianggap diam ?Sedang kita belum bicara
Melayang terbang melayangMelayang di awang-awangMelayang terbang melayangDi atas samudera terbentang

Asmaragama

Aku ingin menurunkan bulanLenganku pendekPertolongan apa yang bisa kuharapkan ?Aku menari menghadang angin
Mencari jala atau jaringAsmaragama mengacaukan nafasku
Mendam birahi gua silumanBenda jaya ingin ku singgahkanBertapa sampai tuntas air kehidupanDan sang rembulan wajah kencana
Yang penuh rahasiaDengan tuntutan yang takkan terlaksanakan
Oh bulan oh bara asmaraTak tersisakah kenanganmu sedikit juga ?
Gelepar ikan di peraduanKijang mengerang di alam mimpiGada perkasa dalam khayal bidadari
Oh rembulanOh asmaragamaMengapa kau belah hatiku ?
Oh rembulanOh asmaragamaAku tetap tegar dibelah asmara

Asmara Tak Secengeng Yang Ku Kira

Bekas tapak tapak sepatuYang kupakai selalu ikutiKemana ku berjalan
Debu dan keringatYang ada diatas kulit tubuh iniSaksi bisu bahwasannyaTak mudah dan tak segampangYang selama ini aku sangka tentang asmara
Cermin di segala tempatSahabat terdekatTak pernah terlambat
Menampung setiap ungkapanMendekap semua keluhanMeraih sukaMenangkap tawaMerebut duka
Satu cerita dua manusiaTerlibat dalam amuk asmaraSatu cerita yang memang adaTak mungkin mati jelas abadiSelama manusia hidup dalam alam ini
Maafkan kalau ku salah dugaTernyata asmara ituTak mudah tak gampang dan tak secengengYang kukira yang kusangka

Asmara dan Pancaroba

Awan hitam semakin legamHujan panas silih bergantiGelombang panas menyengat bumiInsan merintih tak berhenti
Rintih tangis di malam hariJerit pilu menyayat kalbuWajah sendu menanti pagiHujan badai berhenti
Kicau burung ramai bernyanyiTanda musim bergantiKasihku kan datang berlariMenjemput hatiku yang sepi
Kini ku bersama kembaliSeperti dahulu berseriAsmaraku yang telah pergiKini bersemi lagi

Asik Gak Asik

Dunia politik penuh dengan intrikCubit sana cubit sini itu sudah lumrahSeperti orang pacaranKalau nggak nyubit nggak asik
Dunia politik penuh dengan intrikKilik sana kilik sini itu sudah wajarSeperti orang adu jangkrikKalau nggak ngilik nggak asik
Rakyat nonton jadi supporterKasih semangat jagoannyaWalau tau jagoannya ngibulWalau tau dapur nggak ngebul
Dunia politik dunia bintangDunia hura hura para binatangBerjoget dengan asik
Dunia politik punya hukum sendiriColong sana colong sini atau colong colonganSeperti orang nyolong manggaKalau nggak nyolong nggak asik
Rakyat lugu kena getahnyaBuah mangga entah kemanaTinggal biji tinggal kulitnyaTinggal mimpi ambil hikmahnya
Dunia politik dunia bintangDunia pesta pora para binatangAsik nggak asik
Dunia politik memang asik nggak asikKadang asik kadang enggak disitu yang asik (katanya)Seperti orang main caturKalau nggak ngatur nggak asik
Pion bingung nggak bisa mundurPion pion nggak mungkin kaburMenteri, luncur, kuda dan bentengGalaknya melebihi raja
Raja tenang gerak selangkahSambil menyematkan hadiah
Asik nggak asik / Politik
Asik nggak asik / Politik
Asik nggak asik
Asik nggak asik

Apakah Aku Benar Benar Memilikimu

Telah kuberikan semua yang ada didalam jiwaTak tersisa walau sekecil debuKu ikhlaskan goresan rasa namun kata yang indahSelalu berlabuh di tempat yang salah
Hari sepi menikam dalamTak adakah secercah harapan
Biduk cinta yang hampir karam coba aku tahanSempat goyah sempat aku bosanHasrat hati yang kini terganggu oleh rasa raguKemanakah rindu yang kemarin
Ungkapkanlah isi hatimuJangan pernah berpaling darikuTunjukkanlah rasa cintamuJangan sampai aku bertanya
Apakah aku benar-benar memilikiApakah aku benar-benar memilikiKamu

Antara Aku Kau dan Bekas Pacarmu

tabir gelap yang dulu hinggaplambat laun mulai terungkaplabil tawamutak pasti tangismujelas membuat aku sangat ingin mencari
apa yang tersembunyidi balik manis senyummuapa yang tersembunyidi balik bening dua matamu
dapat ku temuimengapa engkau tak pastilalu aku cobauntuk mengerti
saat engkau tibadisimpang jalanlalu kau bimbanguntuk tentukan arah tujuan
jalan gelap yang kau pilihpenuh lubang dan mendakijalan gelap yang kau pilihpenuh lubang dan mendaki

Angan dan Ingin

Sambil tersenyum dan tanpa bebanSepanjang jalan menarik perhatianRambutnya panjangRampingnya pinggangCelana blue jeans mengukir tubuhnya sempurna
Tua muda berangan melihatnyaSeperti aku ingin bersamanyaTapi sayangnyaAngan dan inginSeperti angin
Tiada habisnyaTiada hentinyaMelayang
Tiada habisnyaTiada hentinyaMenggoyang
Tiada habisnyaTiada hentinyaMenantang
Tiada habisnyaTiada hentinyaSehingga hujan turun mengecewakan

Ancur

Namamu slalu kubisiki, dalam tidurkuDalam mimpiku, setiap malamHangat tubuhmu, melekat dikulitkuBeribu peluk beribu cium kita lalui
Tapi kau kaburDengan duda anak 3 pilihan ibumuHatiku hancurBerserakan, berhamburan kayak jeroannya binatang
Reff:*ya....... SudahlahKumenangis seadanya sekuat tenagaYa... Sudah...lah...**kau memang setan alas nggak punya perasaan
***Ancur......
Doaku diakad nikahmuSmoga siduda diracun orangBiar cepet mampus